Kamis, 24 November 2011

Lilin Pelangi Diselimuti Awan Mendung


Lilin Pelangi Diselimuti Awan Mendung
         
          Seorang manusia tidak akan pernah merasakan arti sebuah kehidupan apabila mereka belum merasakan bagaimana pahitnya cobaan hidup dan mengecap manisnya kebahagiaan dalam kehidupannya. Karena, sebenarnya cobaan itulah yang mendidik manusia untuk selalu tegar dalam menghadapi  suatu cobaan dan mendewasakan diri mereka. Bagi Arin, cobaan dan sebagian kisah menyakitkan hati di hidupnya, dianggap sebagai serentetetan mimpi buruk dalam lelapnya setiap malam. Namun, sepertinya sangat sulit untuk terbangun dan atau pergi dari mimpi buruk itu.
          Seperti yang Arin rasakan sekarang, dia telah merasakan pahit cobaan hidup yang dihadapinya sendirian. Namun, itu semua tidak membuatnya lupa untuk selalu mengingat Sang Pemberi Hidup dan tidak kelak membuat Arin putus asa dalam menghadapi takdirnya. Sampai Tuhan mengabulkan doanya, setelah sekian lama ia menahan luka di hatinya seorang diri. Karena dalam hati Arin, ia yakin bahwa Allah tidak pernah tidur dan tidak akan memberi cobaan pada hamba-Nya melebihi kemampuan batas mereka. Jika Allah memberinya cobaan itu pasti karena Allah yakin Arin dapat melaluinya. Dan di balik cobaan itu selalu ada keyakinan bahwa  terdapat rencana terselubung untuk Arin yang tidak ia duga-duga.
****ms<3dk****
          “Eh, Sya, Arin itu sebenernya kenapa sih? Kok sekarang kayaknya dia agak berubah, jadi pendiem and kurang bergaul gitu. Kamu kan yang deket sama dia,” tanya Zahra ke Raisya saat melihat Arin termenung sendirian di perpustakaan sekolah.
          “Ehm,, kamu tahu ‘kan orang tuanya Arin itu kayak apa,” balas Raisya.
          “Maksud kamu?”
          “Orang tuanya Arin itu kolot banget tahu! Ehm, mereka sering kasar ke Arin. Aku kasihan sama dia. Perlakuan orang tuanya itu kayak orang tua tiri tahu! Masa iya tega mukul, nendang, nampar, jambak anaknya sendiri. Cuma karena masalah sepele lagi!” Jelas Raisya panjang lebar.
          “HAH ?? Kamu serius? Masa sih orang tuanya Arin kayak gitu!” Zahra menggeleng.
          “Kamu nggak nyadar apa! luka di tubuh Arin itu iya karena perlakuan kaya gitu!”
          “Sampe memar semua gitu, Sya?! Ya Ampun, kasihan dia. Emang soal apa sih kok sampe segitunya?”
          “Gara-gara dia ngerjain tugas sampe pulang jam 7 malem. Seharusnya orang tuanya juga pengertian, kan. Ya, namanya juga sekolah, wajar donk ngerjain tugas kayak gitu.”
          “Iya sih, kalau mereka mau didik anak juga nggak pake’ cara kayak gitu kali!”
****ms<3dk****
          Masalah itulah yang membuat Arin berubah. Sikapnya menjadi dingin, pendiam, dan terkesan menutup diri dari orang lain. Dia juga terlihat sering termenung dan melamun sendirian. Padahal sekarang, Arin sedang menempuh pendidikannya di salah satu Sekolah Menengah Atas favorit di Kota Bekasi. Ia duduk di bangku kelas 10. Sebenarnya dia anak yang pandai bergaul, ramah, dan periang. Namun, agaknya dia tidak sanggup lagi menahan beban masalah yang menyangkut kedua orang tuanya itu sendirian. Sampai masalah itu yang merubah sikapnya menjadi seperti sekarang.
          Dia menjadi sering melamun dan nilainya pun cenderung menurun. Seakan-akan, jasadnya berada di tempat itu namun pikirannya terbang jauh entah kemana tujuannya dan di mana berada.
          “Dasar anak bandel!! Pulang enggak tahu waktu! Kamu punya otak apa enggak?! Hem.. Dasar (g*!^0k)!!” Bentak ayah Arin dan dengan teganya menyeret badan Arin di jalan. Ayahnya sama sekali tidak menghiraukan tangisan dan jeritan Arin yang kesakitan karena itu, justru tamparan, tendangan, dan pukulan yang menambah luka di badan Arin.
          Sesampainya di rumah, Arin sudah tidak merasakan dan menghiraukan luka dan bajunya yang bercampur darah. Dia melampiaskan emosinya seketika itu juga!
          “Aku nggak tahan sama kalian! Kalian anggap aku ini apa!? Baru kali ini aku menemui ayah berwatak iblis dan berhati batu sepertimu! Sifatmu  seperti setan yang berbalut rupa malaikat! Aku BENCI kalian!!!!!” Arin berkata dengan kasar karena sudah tidak sanggup menahan amarah dalam hatinya selama ini.
          Namun ayah Arin justru terus-terusan mengeluarkan kata-kata hinaan untuk Arin!
          “Persetan dengan semua omongan kalian, aku sudah biasa mendengarkan cacian dan hinaan kalian! Kenapa juga kalian nggak bunuh aku sekarang, kalau kayak gitu kan nggak ada lagi yang buat kalian jengkel! Hahaha. Hidup kalian akan tentram!” Arin membalas cacian mereka.
          Akibat peristiwa itulah batin Arin menjadi semakin tertekan. Sebenarnya ia ingin berbagi cerita itu kepada orang lain, namun Arin tidak mungkin menceritakan itu pada sembarang orang, apalagi itu menyangkut orang tuanya sendiri. Dia takut jika orang tuanya menjadi salah paham dengan apa yang ia ceritakan pada orang lain.  Dan menjadi semakin tidak menyukainya.
****ms<3dk****
          “Kapan mimpi buruk ini bisa lenyap dari hidupku? Apa salahku hidup di dunia ini sampai harus diperlakukan seperti ini. Aku juga ingin bahagia! Bukan diperlakukan seperti batu! Sampai kapan aku harus bersabar Ya Allah.Aku bukan BATU yang tidak punya perasaan!” Ucapnya suatu malam saat matanya belum bisa terlelap. Dia tidak menghiraukan darah yang mengalir dari luka di tubuhnya lagi, hanya merebahkan tubuhnya di kasur diselimuti dingin yang mendera.
          Keesokan paginya, ia tetap berangkat ke sekolah seperti biasa. Namun, teman-temanya heran mengapa tangan Arin penuh luka bahkan pipinya bengkak. Meskipun begitu, dia masih sempat menyapa temannya mekipun menyimpan luka di balik senyum pahit di bibirnya.
Arin menjalani hari-harinya sendirian, di sekolah pun seperti itu. Banyak temannya heran karena perubahan sikapnya. Dulu dia anak yang periang dan ramah. Namun sekarang, dia tidak mau berbicara atau bergaul dengan orang lain, termasuk Raisya sahabatnya. Dia lebih senang menghabiskan waktunya di sekolah untuk menyendiri di perpustakaan. Sampai di suatu siang saat istirahat, Raisya tidak sengaja mendengar ucapan Arin yang sedang bersandar di jendela pojok perpustakaan.
          “Masih adakah kebahagiahaan untukku dalam hidup ini? Adakah orang yang peduli terhadapku, menyayangiku, atau bahkan mencintaiku dan merasa takut kehilanganku? Jika ada! Kapan kebahagiaan itu datang dan menyambut sanubari hidupku! Menjadi penawar hatiku yang sudah terlanjur beku dan terluka ini. Ahhh, aku ingin kebahagiaan itu!”Gumam Arin sambil terisak-isak menghapus butir air mata yang menghiasi pelupuk matanya.
          Mendengar kata-kata yang barusan didengar Raisya dari Arin, membuat perasaan Raisya yang tadinya ceria manjadi mengharu biru karena melihat sahabatnya tertekan dan menderita seperti itu. Ia pun tak kuasa membendung lelehan air mata yang menetes di pipinya.
          “Ya Allah, berilah kesabaran dan ketabahan pada Arin. Jangan biarkan sahabatku ini menanggung beban yang dihadapinya sendiri. Berilah dia petunjuk untuk menyelesaikan semua ini. Agar dia bisa menjadi sahabatku yang dulu. Tegarkanlah hatinya, dan kabulkanlah doa yang ia minta padaMu. Aku tahu Engkau Maha Mengetahui Ya Allah,” bisik Raisya dalam hati.
****ms<3dk****
          Hanya kesepian dan kehampaan yang setia menemani Arin di setiap nafasnya. Sampai suatu malam, dia merasa sangat jenuh dengan kesepian yang dirasakannya selama ini. Akhirnya, seusai shalat magrib  ia terpikir untuk membuka akun Facebooknya yang sudah lama tak dihiraukannya  lewat ponsel dan menumpahakan kesepian lewat status-statusnya. Tanpa sengaja, Arin berkenalan dengan seorang cowok yang bernama Satria. Akhirnya Arin dan Satria saling bertukar komentar. Tidak disadari, hal itu bisa membuat Arin sejenak melupakan kesepian hatinya. Berawal dari itu, Arin dan Satria berkenalan, bahkan mereka saling bertukar nomor handphone. Sejak malam itu, mereka berdua sering SMS-an. Satria memanggil Arin dengan sebutan adek sedangkan Arin memanggilnya dengan sebutan aa’.
****ms<3dk****
Tanpa Arin sadari, Satria menjadi tempat ia bertukar cerita dan menumpahkan perasaannya. Satria pun bisa menjadi pendengar yang baik menurut Arin. Ada suatu perasaan yang berbeda dalam benak Arin semenjak ia berkenalan dengan Aa’. Perasaannya langsung yakin bahwa Satria adalah orang yang bisa dipercaya.
“Aa’…. lgi sbuk gx? Mw tmenin adek smsan gx? Cerita2 yuk!” tulis Arin dalam pesannya yang tak lain ditujukan kepada Satria.
“Ehm,, nggk kq dek. Kira2 Adek mw cerita soal ap y? Cowo mngkin? xixixi,” balas Satria bercanda.
Namun, Arin tersentak membaca balasan pesan itu. Hatinya bergetar dan dia merasakan perasaan yang aneh hinggap di hatinya. Jantungnya berdebar-debar hanya karena membaca pesan dari Satria.
“Hah? Cowok? Hm,, aku selalu berkhayal tentang Satria. Dan aku memang merasakan perasaan yang aneh seperti ini saat aku kenal dengan Satria. Apa mungkin… Ahh, mungkin aku terlalu senang bisa berkenalan dengan orang mengerti perasaanku. Namun getaran apa dalam hatiku ini?” Arin mencoba menampik perasaan cinta yang ia simpan untuk Satria dalam hati.
“A’a, kq tiba2 ngmong soal cowo ssi! Huhh.” Akhirnya Arin mebalas pesan itu agak sedikit manja.
“Y gpp, dek, tapi masa iya nggk ada cowo yg suka sma qm ssi? Qm tu prhatian, baik, pinter lgi Atau qm yg gx nydar xlo ad cwo yg suka sma qm, dek.”
“Y adek gx tau, a’ . Nggk trllu mkir soal itu kq.”
“Ap ini karena hti qm msih trtekan, dek?”
“Mngkin jga. Tpi adek jg gx tau.”
“Dek, dngerin aa’ deh. Aa’ tau hti qm skit krna prlakuan dn caci maki ortu qm kmren2. Tpi, dek, itu smw bkan brarti smw org anggep adek kya omongan mreka. Adek gx hrus mnutup diri dari org lain. Aa’ ykin kq, bnyak org yg synx dn pduli sm adek. Adek hrs smangt y, ad aa’ kq yg slalu dkung adek. Adek hrus jd cewe yg periang n ramah kya dulu lgi y,” nasehat Satria pada Arin.
“Hmm, adek tw aa’ synx sm adek. Tpi a’, sulit bwt lupain kjadian itu a’ .Cuma aa’ yg ngrti prsaan adek. Ju2r, yg jdi smangt bwt adek itu….. Aa’,” tanpa disadari Arin pula, dia mengungkapkan rasa sayangnya terhadap Satria. Arin tidak sadar dia telah menyatakan itu, namun… Dia sedikit membuka hati untuk Satria.
“Dek, aa’ mw tnya sswtu, tpi qm jwab ju2r y. Ehm, ap ad org yg qm synx ? atw org yg qm suka di hati qm? Mff xlo mnrut adek, aa’ lancang tnya kya gni,” tanya Satria tiba-tiba.
“Hmm, mgkin ad org yg adek hrapin di hati adek, tpi adek tkut bwt ngakuin it ke orgnya. Smnjak adek knal sma dya, adek ngrasa nyman mskipun blm prnah ktemu. Tpi, dy bsa ngrtiin prsaan adek jga prhatian bgt! Ehmm… adek nggk mw ke PeDe-an dulu ahh. Adek tkt xlo prsaan org itu brlawanan sma prsaan adek.”
“Owh..padahal ad kq yg synx n cinta sma adek. Tpi adek gx nydar mgkin.”
“What? Cinta sma adek??? Sypa a’? jgn bcanda deh.” Arin menjawab pesan itu deselimuti perasaan kaget di dadanya.
“Iy pkoknya ad. Eh dek, kpn2 ktemu yuk, mw nggk?”
“Wahhh,, psty mw bgt a’, kpan? dmna? kpan?” Balas Arin bertubi-tubi.
“Pas satu bulan qt knal kn Minggu bsok, mlemnya ktemu di taman dket skolah qm aj. Jam 7 malem,” Jawab Satria.
“Ssiiipppp… ” Begitulah keakraban mereka. Perasaan Arin menjadi tidak karuan. Senang, kaget, deg-deg-an. Campur aduk! Namun, Arin juga masih penasaran dengan pesan Satria yang menyatakan kalau sebenarnya ada yang cinta sama Arin.
Waktu menunjukkan pukul 23.00 tengah malam, Arin masih berusaha untuk memejamkan mata dan berharap terbang ke alam mimpinya yang indah. Namun dia memikirkan bagaimanakah pertemuannya dengan Satria esoknya? Besok! Khayalan Arin tentang Satria akan segera terwujud!
“Ahhh, senagnya,,, namun, aku masih tidak mengerti bagaimana perasaanku terhadap Satria. Inikah cinta yang Tuhan kirim untukku? Jika benar, salahkah jika aku memendam perasaan ini? Atau aku harus mengungkapkannya? Tapi, ahhh…. Aku terlalu takut untuk menerima jawaban Satria! Bagaimana jika perasaan ini bertepuk sebelah tangan? Namun jika tidak ku ungkapkan, perasaan ini semakin menghantuiku dan menjadi beban di hatiku karena tidak pernah tahu jawaban dari Satria. Ahhhh.. Aku binggung!” Keluh Arin dalam batinnya.
****ms<3dk****
          Pagi itu mentari tersenyum cerah. Secerah hati Arin yang hari ini akan bertemu dengan orang yang dikaguminya dalam hati. Arin menjalani harinya dengan senyum yang merekah bagaikan pelangi yang muncul setelah mendung yang menutup langit dan hujan lebat yang membasahi bumi. Dan perlahan, mentaripun kembali ke peraduannya, pertanda bulan akan mengganti mentari untuk menghias malam di bumi ini.
          Arin bersiap-siap untuk bertemu dengan Satria. Dia mengenakan baju berwarna biru dipadu dengan jaket abu-abu  yang terlihat anggun dikenakannya. Arin pun segera berangkat ke taman tempat mereka janjian. Di salah satu bangku di sana, Arin mendapati cowok tinggi yang memakai baju hijau dengan jaket hitam yang tampak casual dan keren.
          “Aa’..!? Inikah cowok yang aku kagumi selama ini? Aku berhadapan dengannya! Sungguh beruntung aku bisa mengenalmu. Ternyata dia ganteng dan manis juga, perhatian lagi!” Batin Arin sembari melempar senyum manisnya pada Satria. Hati Arin bergetar saat dia menatap Satria. Entah apa perasaan yang berbeda menghampiri hatinya saat itu.
          “Wow! Betapa manis dan cantiknya kamu, dek. Akhirnya aku dapat mewujudkan mimpiku melihat parasmu dan memandang mata cantikmu,” Satria juga membatin seperti itu dalam hatinya.
          “Ehmm,, hai. Kamu Satria, kan? Aku Arin. Kamu jangan benggong aja donk. Sorry iya kalau kelamaan nunggu.” Sapa Arin pada Satria sambil mengulurkan tangan kanannya
          “Ouwh maaf, hmm aku Satria.Duduk donk, dek,” Jawab Satria singkat.
          “Makasih. Maaf iya kalau tadi nunggunya lama, biasa macet di jalan. hehehe”
          “Nggak apa-apa kok. Enggak perlu minta maaf terus ah. Ehm, aku boleh ngomong sesuatu?” Pertanyaan Satria yang membuat Arin gugup. Dan ia hanya menjawab dengan anggukan.
          “Dek, kalau boleh jujur, orang yang sayang dan cinta sama kamu itu…….. Aku! Aku ngrasain perasaan yang beda ke kamu sejak pertama kali kita kenal. Aku bakal terima apapun jawaban kamu kok, aku nggak bakal paksain perasaan kamu. Apa kamu mau jalanin hubungan sama-sama aku?” Ungkap Satria sambil menatap mata Arin.
          “Ehmmmm… sejujurnya orang yang aku harapin itu kamu a’. Aku juga ngrasain kayak yang kamu rasain tadi. Waktu aku natap kamu tadi, ada perasaan aneh yang buat hatiku bergetar. Mungkin ini cinta. Namun aku nggak berani ungkapin ini semua ke kamu. Aku terlalu takut kalau kamu tolak aku. Dan sekarang, aku mw buka hatiku buat kamu. Dan I love you.” Jawaban yang membuat hati Satria berbunga-bunga. Apalagi, Arin membalasnya dengan tersenyum amat manis.
          “Makasih udah mau nerima aku iya. Aku nggak tahu harus ngomong apalagi. Aku bahagia! xixixi”
          Mereka menikmati kebahagiaan itu bersama. Hanya kebahagiaan dan canda tawa yang menghias malam Arin dan Satria saat itu. Pertemuan yang tidak akan pernah mereka lupakan.
****ms<3dk****
          Enam bulan Arin dan Satria menjalin hubungan. Mungkin ini secerca kebahagiaan dan sebagian rencana Tuhan untuknya setelah melaui mimpi buruknya. Terkadang waktu memang tidak terasa. Mereka berdua menjalani hubungan itu dengan penuh cobaan. Mungkin itu yang mendewasakan mereka.Arin menjadikan Satria sebagai semangat hidupnya.Dengan sepenuh hatinya, Arin mempertahankan hubungan itu, bagi Arin menjaga cinta Satria adalah perjuangan menuju rencana indah Tuhan. Dia selalu berharap yang terbaik untuk mereka berdua. Arin berharap cinta mereka abadi, namun hanya waktu yang dapat menjawab harapan Arin.











DATA PENULIS










Nama                               : Karina Setia Dewi
Tempat, Tanggal Lahir : Pati, 19 Agustus 1997
Alamat                              : Dk. Klegen Rt3/2 Kalidoro, Pati
E-mail                              : karinasetiadewi@rocketmail.com
Facebook / Twitter               : www.facebook.com/karin.mblcliquers / @KarinDK1
No HP                              : 085 7475 48 011
Moto                                :
©   Manusia tidak akan pernah merasakan arti sebuah kehidupan apabila mereka tidak pernah merasakan bagaimana pahitnya cobaan hidup dan mengecap manisnya kebahagiaan dalam kehidupan. Sehingga butuh perjuangan dan pengorbanan dalam hidup.
©   Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Biarkan mimpimu terbang menuju puncak angkasa.

Kamis, 28 Juli 2011

cerpen :: Tersenyumlah Sahabatqu, ,

Tersenyumlah Sahabat Ku!!
Cerpen Sahabat

Kala mentari sudah mulai menampakan dirinya, pancaran sinarnya pun mulai terasa hangat. Tubuhku sudah siap untuk menyambut pagi ini, meski bahan makalah masih terbengkalai, laporan karya ilmiah masih terbengkalai, tugas-tugas sekolah pun masih terbengkalai dan sekarang muncul pula masalah yang memusingkan kepala. Meski pikiranku ini tak karuan, aku paksakan kaki ini untuk terus melangkah ke tempat tujuan.

Cerpen Sahabat, Cerpen tentang Sahabat, Cerpen Sahabat Terbaru 2011Dia datang dengan wajah cemberut, yang duh .... aku tak suka, wajah itu mengingatkan aku pada musuh-musuh teroris yang seakan-akan ingin memangsa negeri ini sampai tak berdaya. Gayanya, senyum sinisnya, bicaranya, diamnya dan aku muak pada semua yang berhubungan dengannya. Iya ... aku tau, dia sahabatku. Sahabat yang selama ini ada disampingku, berjuang dan hidup di tempat yang sama, bahkan tak jarang makan dan tidur bersama. Tapi sedihnya kebersamaan yang indah itu harus terenggut begitu saja, kami mengalami perang dingin semenjak kebersamaan itu terekat semakin indah. Awalnya tidak ada yang salah, kami tetap seperti dulu, akrab dan selalu bersama, dimana-mana berdua, dimana diri ini berada, disitu pun ada dia. Tapi seketika bencana datang menghadang, ombak yang besar menghancurkan sendi-sendi persahabatan kami, dan yang ada kini hanya tinggal puing-puing tak berarti.
Aku sedih .. !!

Iya ,, aku sangat sedih. Dalam waktu sekejap persahabatan yang indah itu hancur berkeping-keping. Wajah manis berubah menakutkan, tak ada kata yang keluar dari bibirku dan bibirnya. Bibir itu mengatup tanpa komando. Kebahagiaan berubah menjadi kesedihan, kebersamaan berubah menjadi perpisahan. Meski raga bersatu tapi jiwa terpisah.

Sering aku bertanya dalam hati, kenapa ini bisa terjadi?? Mengapa kesedihan yang sama harus terulang kembali, mengapa harus ada kesedihan setelah kesedihan itu pergi ??
Tapi sayang, tak ada jawaban !
Pertanyaan hanya tinggal tanya. Aku hanya manusia biasa, aku tetaplah insan lemah yang tak punya daya. Aku tidak bisa mengelak dari bencana itu.

“ Rha, besok giliran kelompok kita untuk presentasi, tadi siang Fachri kasih tau aku.” Aku beranikan diri menghampirinya. Aku harus bisa melawan syetan itu. Aku tidak mau dicap sebagai orang yang suka memutuskan tali silaturrahmi. Seperti sabda Nabi dalam sebuah hadistnya : “Tidak akan masuk surga orang yang mendiamkan saudaranya selama lebih dari 3 hari.”

Percuma beribadah sepanjang masa kalau akhirnya tetap masuk neraka. Itulah kenapa aku mati-matian ungkapkan sepatah dua patah kata padanya. Aku tak peduli apakah dia mau dengar atau tidak, ditanggapi atau tidak aku tak peduli. Biar saja, yang yang penting tugas dan kewajibanku selesai. Dia mengangguk sambil bergumam pelan, aku tidak sempat mendengar gumaman itu karena aku terlanjur mengangkat kaki dari sana, aku tak punya daya untuk terus menopang kaki di tempat itu. Tak ada ucapan terima kasih yang aku dengar dari bibirnya. Biarlah ! aku tak butuh ucapan terimakasih itu, yang pasti aku lega karena kewajiban itu berhasil aku tunaikan. Setidaknya aku tidak akan masuk neraka karenanya. Itu saja !

Lambat laun perang dingin itu tercium juga. Teman-teman sekelas pun heran melihat aku yang tidak seperti biasanya. Mereka yang tau aku dan kenal siap aku, mereka yang selalu melihat aku dengan Zahra selalu bersama-sama. Tapi sekarang .. mereka tak melihat lagi hal itu. Mungkin mereka juga sudah tau masalah antara aku dan Zahra.

Aku ditemui Nabil setelah bel pulang sekolah di ruang kelas.
“ Syah, ada masalah ya sama Zahra ?” tanyanya sambil menarik kursi dan duduk disampingku. Mau tak mau aku harus jujur.
“ Iya, aku juga ngga tau kenapa bisa terjadi ?” ujarku.
“ Awalnya gimana sih kejadiannya ?” Nabil balik Tanya.
“ Aku rasa karena masalah kemarin, dia nanya tapi aku menanggapinya kurang ramah. Seharusnya dia juga ngerti kalau saat itu aku lagi bingung dan panik.”
” Kamu kenapa jawabnya kurang ramah?” protes Nabil.
”Aku kesal aja, dia ngga sopan sama aku. Memang dia anggap aku apa ?” Aku balik protes.

” Aku tau, semuanya terjadi karena kalian sama-sama panik dan terjadilah salah paham seperti itu. Sekarang kamu lupakan saja masalah itu.kembalilah bersikap biasa, bersahabatlah seperti dulu. Aku ngga suka kamu seperti itu.
” Sebenarnya aku yang salah, seharusnya aku bersikap bijaksana, tidak boleh membalas keegoan dengan keegoan yang lain.”

” Nah ,, itu kamu tau sendiri. Sekarang kamu harus seperti dulu lagi, sapa dan bicaralah denganya. Jangan takut dicuekin, itu tantangan mulia untukmu. Ayo Aisyah ...berjuanglah ! sangat mulia orang yang menghubungkan silaturrahmi.” Nabil menasehatiku. Aku bersyukur punya teman yang perhatian dan suka mengingatkan. Dia memang teman yang baik.

” Makasih ya ,, Bil. Aku akan berjuang mengembalikan jalinan itu kembali. Mohon doanya ya !!
Aku menggerakan bibir sambil membentuknya menjadi lebih indah, itu senyuman paling manis yang aku ciptakan. Aku berharap senyumman itu bisa meluluhkan hatinya. Tapi ternyata senyum itu hanya tinggal senyum. Senyuman manisku teracuhkan begtu saja, dia melengah tanpa membalas sedikitpun. Hatiku menyuruh sabar .. sabar .. dan tetap sabarr.

Perjuangan belum usai !!
Aku tidak boleh menyerah ...
Aku harus tetap berjuang sampai senyuman manisku dibalas dengan senyuman yang paling manis.
” Oya ,, Rha , besok materi presentasi kita tentang wawancara, drama dan pidato.” Lagi-lagi senyumku mengembang sambil menyapanya. Aku bersyukur punya bahan pembicaraan supaya bisa berbicara dengannya. Dia diam saja, lagi-lagi tanpa ucapan terima kasih. Ah ,, sudah biasa.

Hari ini kos’an sepi, sunyi, tak ada suara-suara yang berarti. Mungkin semua orang sibuk dengan aktivtasnya disekolah. Aku tau, di kamar sebelah ada Zahra. Aku juga tau, hanya aku dan Zahra yang tersisa di kos’an hari ini. Aku sengaja berangkat agak siang ke sekolah,karena aku tau Zahra masih siap-siap di kamarnya. Aku beranikan diri menghampirinya dan mencoba menyapanya. Bermaksud untuk mengajak beangkat kesekolah bersama, tapi sayang sepertinya usahaku kembali sia-sia. Dia seolah-olah menganggapku tak ada. Saat itu, tak sanggup lagi rasanya hatiku menerima perlakuan seperti ini. Dia hanya diam saja tak perdulikan omonganku.

” Rha ,, aku kesekolah duluan ya.” Lagi-lagi aku tabah-tabahkan hati setelah sekali lagi dicuekin. Dalam hati aku berdoa semoga Allah melembutkan hatinya dan bisa menerima aku kembali menjadi sahabatnya. Sayang ,, persahabatan indah itu harus pupus di tengah jalan setelah sekian lama membinanya

” Boleh bicara, Rha ?” Aku menghampirinya di perpustakaan. Dia cuek, tanpa mmenoleh sama sekali, matanya lekat tertuju pada buku yang sedang dia baca.

“ Rha ,, kamu dengar suara aku kan ?” kali ini suaraku terdengar serak.sedih sekali dicuekin seperti ini.

“ Mau ngomong apa ?” Itu suara Zahra. Alhamdulillah akhirnya suara itu terdengar juga setelah sekian lama aku menantinya.

“ Kita tidak boleh seperti ini terus Rha, diam-diaman tanpa kenal dosa.sedih hati ini Rha, kita bersahabat sejak lama, sayang hanya karena masalah sepele kita bermusuhan seperti ini. Mari kita rajut kembali benang-benang itu menjadi tali ukhuwah yang lebih indah, mari kita bina persahabatan kita kembali.” Air mataku berjatuhan dari pelupuknya. Air mata itu mengalir mengairi pipi mulusku lalu merambas ke sela-sela jilbab putih yang aku pakai. “Rabb ,, hati ini sedih sekali.” Batinku pelan.

“ Terserah ....” Hanya itu jawaban darinya.
“ Terserah apanya, Rha ?”
“ Ya terserah .”
“ Kamu ga boleh seperti itu Rha, kasihlah komentar harus seperti apa hubungan kita,harus dibawa kemana persahabatan kita ?”
“ Up to you !” itu jawaban singkat yang betul-betul menyinggung perasaanku. Sedikitpun dia tidak menghargai aku sebagai sahabatnya. Dari jawaban ketus itu aku bisa mengambil kesimpulan bahwa Zahra tak lagi menganggap diriku sahabatnya.
“ Terima kasih Rha atas jawabanmu, setidaknya aku tau apa yang harus aku lakukan setelah ini. Maaf kalau aku selama ini tidak bisa menjadi sahabat yang baik bagimu, maaf kalau selama ini aku sering merepotkanmu dan maaf kalau aku harus mengambil keputusan yang aku sendiri tak sanggup melakukannya.

Tapi sanggup tak sanggup aku harus tetap menjalankannya. Air mtaku bertambah deras membasahi pipi,suaraku gemetar tak terhingga. Sebelum beranjak aku kuatkan hati untuk mengulurkan tangan ingin bersalaman, mungkin jabat tangan terakhir. Alhamdulillah dia menyambutnya walaupun hanya sekilas saja.
Aku beranjak ke luar dengan hati pilu. Keputusanku sudah bulat, aku harus hijrah ke tempat lain. Aku tidakmau menjadi masalah disini. Mengalah bukan berarti kalah bukan ???

Namun, sungguh sejujurnya aku tak mengharapkan kejadian ini. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja.

Sudahlah ...
Apa dayaku ,,,
Harapan aku selama ini tak kunjung ku dapatkan, ku tak temukan lagi ”senyuman dari sahabatku”.

SAHABAT
Aku bersembunyi ..
Bukan berarti akumenghindar
Aku tenggelam..
Bukan berarti aku menghilang
Tapi..
Semua itu aku lakukan
Demi kebaikan kitabersamanya
By :
Ghyna Noviana Yuniar

Cerpen :: Aku di 17 tahun

Aku di 17 Tahun
Tepat pukul 00.00 WIB.

‘’Happy B’dAy Gezy, SLamt Ultah yAch yaNg k 17,’’ kulihat rangkaian kata di layar ponselku. Rasa ngantuk yang masih bertengger di kepalaku, memaksaku membuka kelopak mataku untuk mengetik ucapan terima kasih kepada si pengirim. Kemudian kucoba untuk melanjutkan tidurku. Lagi-lagi getar ponselku tak berniat untuk diam. Kucoba meraih ponselku lagi, kulihat tertulis 1 massage, namun tak kuhiraukan. Selang beberapa menit getarnya membuat aku harus membuka mata. Sekarang sudah tertulis 7 massage.
Oke, sekarang aku bangun, batinku.

Kubuka satu-persatu pesan yang masuk, semua berisi pesan yang sama. Sekarang ngantuk di mataku telah pergi. Dengan gesit jari-jariku menekan keyped untuk membalas SMS tersebut. Setelah itu kuletakkan kembali ponselku di samping bantalku.
‘’Masih ada yang ingat hari ulang tahunku,’’ ucapku bangga.

Sekarang aku 17 tahun, semoga semua berjalan dengan baik dan semoga papa cepat sembuh, sambungku sambil berdoa dalam hati dan mencoba untuk tidur kembali. Lima menit, 30 menit dan sekarang sudah pukul 02.00 WIB, dari semua SMS yang masuk ke handphone-ku, tak satu pun tertulis pesan atau telepon dari pacarku, Deri.

Kucoba untuk tenang, mungkin dia dia ingin membuat kejutan batinku. Deri pacar pertamaku, hari ini di hari ulang tahunku, hubungan kami juga genap 3 bulan. Aku mencoba berpikir semua yang baik tentang dia. Mataku terpejam tapi tidak tidur, otakku membuat rangkaian cerita yang manis. Kucoba mengulang waktu setahun yang lalu di ingatanku. Sesuatu yang harus aku perbaiki dengan bertambahnya umurku. Sesekali bibirku tersenyum ketika ingatanku tiba di waktu Deri berhasil membuatku kagum dan akhirnya tiga bulan lalu dia resmi menjadi pacarku.
Ini ulang tahun pertamaku saat aku punya pacar. Kata orang biasanya yang bakal ngasih selamat pasti pacar, tapi kok enggak kayak cerita-cerita yang kudengar ya, ucapku kecewa pada diri sendiri.

Lama menunggu membuat otakku lelah berpikir dengan imajinasi ku sendiri, aku pun tidur. Aku tak mempedulikan lagi getar di handphone-ku.
Saat sinar mentari pagi menyusup ke celah-celah jendela kamarku, matakupun terbuka. Aku bangun dari tidurku, kulihat ponsel,Tertulis 11 kali miscall dan 8 SMS. Semua dari teman-temanku, tidak ada yang dari Deri. Tapi aku masih tetap berpikir positif tentangnya. Kuambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarku, dan kulangkahkan kaki untuk membersihkan tubuhku.

Liburan semester ini kuputuskan untuk tidak keluar kota. kondisi papa sedang tidak baik. Tiga bulan terakhir ini papa sering bolak-balik ke rumah sakit. Jantung papa tidak lagi bersahabat dengan obat-obat yang diberikan dokter. Terkadang papa terbaring di rumah sakit beberapa hari. Namun sekarang ini papa sudah jauh lebih baik. Terkadang air mataku tak henti keluar jika papa menginap di rumah sakit. Aku ingin papa bersamaku terus, teriakku setiap kali kulihat papa sedang tertidur.

Di rumah ini aku anak tunggal. Aku juga baru menyelesaikan pendidikanku di bangku SMA. Mama sibuk bekerja untuk menstabilkan ekonomi keluargaku dengan kondisi papa seperti sekarang.

Baju kaos putih, celana hitam panjang, sepatu kets dan tas sandang hitam menjadi pilihanku untuk pergi bersama teman-teman ku. Hari ini aku berniat mentraktir kedua sahabatku, Wulan dan Veny. Mereka teman SMA-ku. Hampir beberapa pekan tidak bertemu, banyak cerita yang menjadikan kami lupa waktu. Termasuk ingatanku tentang Deri.

Dari awal aku memang terbiasa sendiri, terkadang meskipun Deri sudah menyandang predikat sebagai pacarku, namun waktuku banyak bersama teman-temanku. Aku sayang dia dan dia sayang aku. Tidak ada masalah dan kami mempunyai kegiatan masing-masing. Kami hanya banyak menggunakan komunikasi melalui handpone dan jarang untuk pergi berdua.

Nonton, makan dan hangout berjam-jam membuat aku, Wulan dan Veny lupa akan jam yang menunjukan pukul lima sore. Aku sudah minta izin kepada Mama. Mama sudah menginzinkan aku pergi karena hari ini aku ulang tahun, apa lagi hari ini hari Ahad. Papa dan mama sudah sepakat hari ini ingin di rumah, mereka tidak ingin ikut bersamaku.

‘’Lan, Ven cabut yuk, dah sore,’’ ajakku sambil meraba isi tasku untuk mengabil handpone, aku panik. Kukeluarkan semua isi tasku tapi ponselku tak ada.

‘’Tinggal di rumah kali Gez,’’ sambung Veny mencoba menenangkan ku.

‘’Kayaknya iya, aku lupa masukin ke dalam tasku tadi,’’ sambungku pasrah ketika aku mencoba mengingat sebelum aku pergi tadi.
‘’Gez, Deri mana?’’ suara Wulan menyadarkanku tentang Deri.

‘’Enggak tahu juga, tadi malam dia enggak nelpon aku, SMS pun tidak. Padahal hari ini aku jadian sama dia juga genap 3 bulan,’’ jawabku sambil menghabiskan makanan di tanganku. Mungkin dia sibuk, atau ponselnya lagi error kali, sambungku lagi.
‘’Kamu yakin nggak ada apa-apa?’’ Sahut Veny dengan muka serius. “Hari ini ulang tahunmu, hari ini juga hari jadian kalian, dia tidak ada sama sekali nemui kamu?”

Aku diam, aku merasa semua baik-baik saja. Mungkin Deri lagi sibuk atau apalah. Ini cuma hari ulang tahun dan hari jadian kami. Bukan hal yang besar, dunia juga tidak bakal runtuh kalau dia lupa dengan hari ini. Aku Cuma nyengir mendengar ucapan Veny.

‘’Gezi, kamu terlalu cuek dengannya, kau sayang dia, tapi kamu tidak perhatian sama dia, nanti nyesel baru tahu rasa,’’ celoteh Wulan panjang-lebar padaku.

Sepanjang perjalanan pulang aku mencoba memutar kembali rekaman ucapan Wulan dan Veny tadi. Aku tidak bisa setenang tadi, rasa cemas hilang- timbul pada diriku.

Tiba di depan rumah, kulihat rumahku sepi. Pintu pun terkunci. Papa dan Mama tidak ada di rumah.

‘’Duh pada ke mana ya, mana handphone-ku tinggal di dalam lagi,” ucapku kesal karena kecerobohanku.

‘’Gezi, mamamu nyuruh ke rumah sakit. Papamu jantungnya kumat lagi. Di rumah sakit biasa tempat papamu berobat,’’ teriak tante Eli dari balik pagar rumahku.

Tanpa pikir panjang aku langsung masuk ke dalam mobilku dan bergegas ke rumah sakit. Jantungku tidak beraturan, cemasku bertambah, wajah papa melekat di ingatanku.

Hentakan kakiku membuat mata di sekitar ruangan rumah sakit melihat ke arahku. Kakiku berhenti seratus meter dari tempat Mama duduk di salah satu kamar rumah sakit. Air mata mama keluar. Wajah mama pucat. Banyak saudara papa dan mama berkumpul di ruangan. Kakiku seperti terikat beban untuk melangkah ke kerumunan keluargaku. Mama sadar akan kedatanganku. Dia menghampiriku dan memelukku erat, erat sekali. Semua mata kasihan tertuju pada kami. Dari kamar keluar sebuah tempat tidur. Di sana sedang tertidur wajah orang yang aku sayangi tertutup kain putih. Kulepaskan pelukan mama dari tubuhku. Kulihat dengan dekat wajah pria yang tertidur itu, air mataku mengalir tak henti.
Kepalaku pusing, nafasku tak beraturan, semua terlihat gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi.

***
Sekarang aku tinggal berdua dengan mama. Kepergian papa sangat terasa bagi kami berdua. Aku pingsan saat di rumah sakit waktu itu. Saat aku sadar, papa sudah dimandikan dan akan di kuburkan. Seperti mimpi paling buruk melihat papa ditimbun dengan tanah, Papa sendiri di sana.
‘’Sayang kita harus ikhlas papa pergi,’’ ucap mama saat masuk ke kamarku.

‘’Iya Ma, aku ikhlas semoga papa dapat tempat yang layang di sisi Yang Maha Kuasa,’’ jawabku seadanya.
Ini ada kado dari Deri, mama lupa bilang sama kamu. Kemarin sebelum papa dibawa kerumah sakit, Deri datang ke sini. Dia juga cari kamu, HP kamu tinggal saat itu jadi mama tidak bisa memberi tahu kamu. Dia pun langsung pamit sama mama,’’ ucap mama sambil memberikan bungkusan pink berukuran besar ketanganku.

‘’Iya, makasih Ma,’’ jawabku singkat pada mama.
Mama pun keluar meninggalkan aku dan bungkusan itu. Sadar akan kebera dan handphone-ku yang sudah tidakku lihat selama sepekan ini, tanganku mencar-cari ponsel itu. Akhirnya kutemukan di selipan ujung kasur tempat tidurku. Tertulis 40 SMS dan 113 kali panggilan tak terjawab. Kubuka panggilan tak terjawab, kulihat deretan nama teman-teman SMA-ku. Deri juga salah satuya.

Dia menghubungiku 43 kali. Kulihat waktu panggilanya. Ini kan ketika aku lagi pergi sama Wulan dan Veny, ucapku pada diri sendiri.
Kubaca juga pesan yang masuk, tertulis selamat ulang tahun dan pesan ucapan duka cita dari teman-temanku. Kuhentikan jemari saatku menemukan pesan dari Deri, ada ucapan selamat ulang tahun dan dan pesan yang membuatku teringat pada kata Wulan dan Veny. Entar nyesal baru tau, ucap mereka saat itu.

Kubuka kado dari Deri yang terletak di depanku. Tak kupedulikan lagi ponselku. Kotak besar yang terbungkus kertas kado pink itu berisi bantal bola basket dan bola basket asli serta sepasang baju basket yang sangat aku inginkan dari dulu.

Ingatanku kembali saat Deri bilang suka padaku di lapangan basket ketika aku sedang latihan. Di selipan baju kutemukan kertas bertuliskan, Dear Gezi, gadis pemain basketku. Kubaca satu demi satu kalimat yag ada di kertas itu. Mataku berhenti pada kalimat Aku sayang kamu, tapi aku merasa kamu tidak sayang padaku. Semoga dengan bertambahnya umur kamu, kamu lebih dewasa untuk menghargai sesuatu yang penting di hidupmu, khususnya perasaan orang-orang yang menyayangi kamu.

Deri Gusryza

Kulipat kertas itu kurebahkan tubuhku di atas kasur. Kupejamkan mataku. Lagi-lagi otakku kembali memutar rekaman tentang sosok cowok yang pernah singgah di hatiku itu.***

by : Wido Sulviawati
 
Sky Design Pointer
ungu cliquers | Template Sweet Uniqx Transparent © 2011 Free Template Utta. Designer by Utta' Melanickz. Look Template Uniqx Opacity Transparent and Uniqx Transparent